Sampul Buku Bagaimana Cara Mengatakan “Tidak”? [Niamah]
Sampul Buku Bagaimana Cara Mengatakan “Tidak”? [Niamah]

Oleh: Niamah*

Identitas Buku

Judul Buku      : Bagaimana Cara Mengatakan “Tidak”?

Penulis         : Raisa Kamila

Penerbit        : Buku Mojok

Tahun Terbit    : 2020

Jumlah Halaman  : viii + 142 halaman

Sejak dalam kandungan, bahkan lahir ke dunia, manusia tidak akan pernah bisa memilih akan terlahir dengan jenis kelamin apa. Mereka lahir sebagai seorang perempuan atau laki-laki dengan beban hidup masing-masing. Namun, sebagai perempuan, kehidupan yang dijalani tidak akan pernah mudah selagi mereka berada dalam masyarakat yang patriarkis. 

Lewat sepuluh cerpen yang disatukan dengan judul Bagaimana Cara Mengatakan “Tidak”? Raisa Kamila mencoba menggambarkan kehidupan perempuan yang serba tidak pasti. Ketidakpastian itu dirangkum dalam catatan kecil yang berisi: “Perkara-perkara seperti berpindah, kerabat yang lenyap, peralihan rezim, konflik sosial, menjadi eksil, hingga terjebak dalam hubungan beracun bisa dikatakan sebagai ketidakpastian, atau barangkali serentetan kesialan hidup.” (sampul belakang)

Kesialan yang menimpa seorang perempuan terwujud hanya karena terlahir sebagai perempuan. Lewat aturan, perbedaan keyakinan, perempuan dihadapkan pada keterasingan pertemanan–bahkan hukuman yang dibuat-buat.

“Penjaga toko sepatu menarik tanganku, lalu mengatakan, sebaiknya aku tidak pergi ke arah sana. Dua perempuan baru saja diteriaki karena tidak memakai jilbab dan sepertinya, rambut mereka sedang dicukur sebagai hukuman, lanjut penjaga toko sepatu itu.” (hlm. 24)

Kisah serupa juga ditemukan pada cerpen berjudul Cerita dari Belakang Wihara. Di dalamnya, si tokoh diteriaki orang di pasar karena tidak mengenakan jilbab. “Aku jawab balik, saya ini orang Kristen. Tapi mereka nggak percaya. Aku panik, karena mereka orang ramai.” (hlm. 120). Hingga pada akhirnya kekhawatiran tokoh menjadi kenyataan seiring terbitnya surat edaran yang mewajibkan semua perempuan di sekolah memakai jilbab. Jika direfleksikan, cerita ini sama persisnya dengan kenyataan yang sering kita jumpai dalam kehidupan di masyarakat.

Kita ingat, media sosial pernah memviralkan video yang berisi adu argumen antara orang tua siswi dan pihak sekolah karena siswi nonmuslim diminta berjilbab di SMK Negeri 2 Padang. Bahkan, sejumlah siswi nonmuslim juga mengungkap mereka memilih berjilbab sejak SD. 

Kasus di atas hanya satu dari beberapa wujud nyata intoleransi di sekitar. Dalam kumpulan cerpen ini, penulis mencontohkan beberapa kisah seperti perempuan yang dianggap berdosa karena rambutnya, seorang anak yang dikucilkan akibat gaya pakaiannya, hingga meninggalnya seseorang dengan cara tidak menyenangkan–kepalanya dipenggal dengan pedang panjang–karena tidak beribadah layaknya orang-orang dalam cerita.

Sebagian besar cerita yang diangkat berlatar belakang di Aceh. Hal ini kemungkinan tidak lepas dari pengaruh tanah kelahiran si penulis yang tumbuh dan besar di Banda Aceh. Beberapa kali penulis menggunakan latar Masjid Raya, istilah dalam bahasa setempat, hingga penggambaran peristiwa-peristiwa besar yang sedang terjadi di Aceh saat itu. 

Raisa memang tidak menggambarkan secara gamblang peristiwa yang dimaksud. Ia meminjam tuturan anak-anak dan remaja yang mencoba bertanya dan bernegosiasi dengan keadaan. Kecuali pada halaman 115 dari penuturan tokoh Aku, pembaca jadi paham bahwa saat itu terdengar desas-desus mengenai Aceh akan segera merdeka.

Petunjuk ini mengingatkan saya pada sebuah resensi yang ditulis oleh Laili mengenai kumpulan cerpen Perempuan Pala milik Azhari Ayub. Laili menyebut kumpulan cerpen ini juga menghadirkan peristiwa yang erat kaitannya dengan Aceh, seperti bencana tsunami, Gerakan Aceh Merdeka, perseteruan “orang gunung” dengan tentara, masa operasi militer, dan peristiwa lainnya. Barangkali, setelah ini, membaca Perempuan Pala menjadi pelengkap untuk menyusuri cerita-cerita Aceh lainnya.

***

Dari video singkat berisi penggalan ulasan mengenai buku ini, Raisa mengatakan, cerita yang diangkat sebagian besar berasal dari apa yang ia dengar kemudian ia eksplorasi. Sehingga menjadi keunggulan tersendiri jika isi cerita terasa dekat di mata pembaca. Mulanya, sebagai pembaca saya tidak mengerti mengapa orang tua dulu memesan anak perempuan agar mengenakan celana pendek di balik roknya. Pertanyaan ini baru terjawab ketika mendapati cerpen penutup sekaligus menjadi judul kumpulan cerpen ini.

“Pada hari-hari tertentu, aku merasa malas memakai celana pendek ini. Tapi cerita tentang anak kelas enam yang diperkosa oleh tukang bangunan selalu terngiang setiap aku akan berpakaian ke sekolah dan membuat aku terpaksa menahan rasa gatal sepanjang hari.” (hlm. 128)

Puncak kesialan hidup sebagai perempuan digambarkan dalam cerita Bagaimana Cara Mengatakan Tidak. Selain kasus perkosaan yang menimpa anak-anak, ternyata perempuan dewasa bisa mengalami perkosaan dalam sebuah perkawinan atau yang lebih dikenal dengan marital rape.

Buku ini cocok bagi yang tertarik dengan isu perempuan. Selain itu, buku ini juga cukup menyita penasaran mengenai serangkaian peristiwa bersejarah yang terjadi di Aceh pada masa konflik dan peralihan rezim. Raisa cukup berhasil mendekatkan pembaca lewat cerita-cerita yang begitu dekat dengan kehidupan nyata, sehingga pembaca mudah memahami isi sekaligus merefleksikannya lewat pengalaman personal masing-masing.

 

*Mahasiswi Psikologi Unnes 2018

Tinggalkan Balasan