Kondisi Kampung Bandarharjo yang masih terendam banjir di hari ketiga (BP2M/Adam)

“Takut. Kayak Tsunami,” ungkap Tutinah (47), seorang warga yang menyaksikan langsung ganasnya banjir rob di kampung Bandarharjo (23/5). Ia tidak menyangka akan mengalami musibah ini. Ada ketakutan yang tampak di matanya saat mengingat kembali kejadian itu. Suaranya bergetar saat menjelaskan betapa bengisnya ombak laut itu menyapu desanya. Raut wajahnya terlihat gelisah. Ia khawatir bencana itu datang kembali. Terlebih ia memiliki anak berusia sepuluh bulan.

Tutinah menyadari bahwa banjir belakangan ini terjadi lebih tinggi dari biasanya. Hal tersebut lantaran jebolnya tanggul di kawasan PT Lumicitra Nusantara. Padahal, selama ini, warga Bandarharjo berlindung di balik tanggul yang dibangun pada 2020 itu.

Ketika sapuan rob datang, Tutinah bersembunyi di dalam rumah bersama tiga anggota keluarganya. Wanita itu bersyukur lantaran memiliki bangunan rumah dengan posisi lantai yang berada jauh di atas permukaan tanah. Dengan kondisi yang demikian, ia dan keluarganya mampu berlindung dari ganasnya banjir rob.

Selain Tutinah, masih banyak warga lain yang terdampak banjir rob. Salah satunya ialah Suprayanto (57), Wakil Ketua RW 9. Menurutnya, kebanyakan warga desa Bandarharjo memilih untuk bertahan di rumah. Beberapa lainnya mengungsi di rumah saudara yang tidak terdampak banjir. Ia juga menceritakan bahwa kejadian tersebut bukan kali pertama banjir rob menerjang kampungnya. Pada musim penghujan, warga sudah kerap dilanda banjir rob. Namun pada banjir kali ini, tanggul tidak mampu menahan tingginya air pasang laut. Alhasil tanggul tersebut jebol dan menyebabkan banjir yang lebih parah.

Sembari menyesap kopi, Suprayanto menambahkan bahwa saat itu listrik sempat dipadamkan sampai pukul 23.00 WIB. Kondisi tersebut membuat warga panik. Mereka berusaha mengamankan aset berharga, seperti sepeda motor dan berkas penting. “Besar-besarnya itu jam 4. Tingginya segini,” sambung Supriyanto sambil menunjuk lutut.

Penyebab dan Dampak Banjir Rob

Meskipun tidak mendapat predikat sebagai wilayah dengan banjir terparah, posisi kampung Bandarharjo yang bertetangga dengan laut tetap membuat warga waswas. Hunian rumah yang padat, ditambah dengan resapan air yang kurang memadai, membuat genangan air mudah meluap.

Ketika memasuki perumahan warga, panorama bangunan amblas mendominasi penglihatan kami. Ada pula jendela rumah yang mencapai dasar tanah. Bahkan posisi jalanan lebih tinggi dari teras bangunan. Pemandangan rumah yang kian amblas sudah menjadi pemandangan yang lumrah. Musababnya tak lain dan tidak bukan karena penurunan muka tanah di pesisir Jawa. Bahkan desas-desus tenggelamnya kawasan pesisir utara turut menghantui penduduk setempat.

Mengutip dari majalah NuansA, penurunan muka tanah diakibatkan oleh tanah aluvial muda yang strukturnya tidak kokoh. Tanah tersebut berbentuk endapan pasir yang belum menjadi batuan. Dewi Liesnoor Setyowati, profesor konservasi lingkungan dan antisipasi bencana, menyatakan bahwa selain faktor aluvial yang belum matang, masifnya penggunaan air tanah juga memperburuk lingkungan. Hal ini terlihat dari adanya pengeboran sumur-sumur yang ilegal di daerah konservatif.

Sementara itu, banjir rob di Semarang belakangan ini juga akibat adanya fenomena Perigee, yaitu fenomena ketika bulan berada di titik terdekat dengan bumi. Pada saat itulah gravitasi bulan meningkat. Ditambah lagi, keberadaan krisis iklim juga membuat permukaan air laut meningkat. Hal tersebut karena adanya pencairan bongkahan es yang ada di Kutub Utara. Akibatnya, permukaan laut makin meluap dan berujung pada bencana banjir rob.

Belum cukup sampai di situ, masalah lain ditimbulkan oleh pembangunan infrastruktur. Beban konstruksi yang berat mengakibatkan tanah di sekitar makin amblas ke laut. Dampaknya terjadi penurunan tanah sedalam 9-13 meter setiap tahun.

Mewaspadai hal tersebut, masyarakat Bandarharjo menyiasati dengan meninggikan rumah. Rosmiyati (42) menyatakan bahwa penduduk setempat tidak memiliki tabungan. “Kami tidak punya tabungan karena setiap punya uang selalu memikirkan rumah,” tutur ibu rumah tangga itu. Setiap rupiah yang terkumpul dari jerih payah mereka selalu digunakan untuk meninggikan rumah. Cara itu dilakukan sebagai satu-satunya solusi untuk tetap tinggal di kampung tersebut. Walaupun taktik rumah tinggi menghasilkan proteksi yang cukup signifikan, ganasnya banjir yang menyerang tak cukup untuk melindungi warga.

Saat kami mendatangi kampung Bandarharjo, banjir sudah memasuki hari ke tiga. Keadaan warga mulai membaik. Aktivitas pun mulai pulih, seperti mencuci baju, belanja di pasar, dan pedagang yang berjualan. Mereka beraktivitas, meskipun air masih menggenang setinggi 15 cm. Bahkan terlihat tukang bubur dengan gerobaknya yang mulai berjualan seolah tidak peduli dengan luapan air.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin itu ungkapan yang tepat bagi penghuni kampung Bandarharjo. Banjir belum sepenuhnya pergi, tapi hujan rintik-rintik datang di dusun tersebut pukul 08.55 WIB (26/3). Dampaknya, ketinggian air naik sekitar 10 cm. Embusan angin yang kencang disertai dengan mendung yang datang dari arah barat membawa mimpi buruk yang baru. Warga segera memasuki rumah untuk mengamankan diri, khawatir kalau saja banjir kembali menerjang.

Seorang ayah sedang menggendong anaknya di tengah luapan banjir rob (BP2M/Adam)

Uluran tangan dari Relawan dan Pemerintah

Sebuah ambulan memasuki dusun Bandarharjo. Tampak ambulan tersebut menuju posko satu dan dua. Mulanya, posko satu merupakan balai perkumpulan warga RW 9. Pasca terjadinya banjir, lokasi itu digunakan sebagai tempat pelayanan kesehatan masyarakat.

Posko tersebut ditempati oleh segerombolan relawan asal Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Kesdam IV Diponegoro. Beny—seorang relawan—mengatakan terdapat 24 mahasiswa STIKES yang membantu warga. “Kami di sini datang untuk membantu petugas puskesmas,” ujar mahasiswa semester empat tersebut.

Kedatangan mereka bertujuan memeriksa kesehatan warga setempat. Para relawan ditempatkan di tiga titik posko di Kelurahan Bandarharjo. “Airnya kan kotor. Bisa jadi faktor itu yang menyebabkan sarang nyamuk sehingga (memicu) terjadi penyakit DB,” dugaan Beny. “Untuk jumlahnya kurang tahu sih, tapi kalau urgent langsung dibawa pakai ambulan,” ujar April Ningtyas, mahasiswa Prodi D3 Keperawatan.

Tak hanya pertolongan dari relawan, bantuan juga diberikan oleh pemerintah berupa sembako dan asupan dari dapur umum. Bahkan, Ganjar Pranowo—Gubernur Jawa Tengah—datang untuk memeriksa jebolnya tanggul yang membentang antara Tambaklorok-Bandarharjo. Namun, Suprayanto mengatakan bahwa bantuan yang dibutuhkan bukanlah nasi bungkus ataupun obat-obatan, melainkan solusi dari banjir tersebut.

“Nasi dari dapur umum itu gak penting. Yang penting gimana solusinya agar banjir ini surut,” tegas Suprayanto dengan gestur tangan yang menepis angin. Ia juga menambahkan jika musibah ini menjadi ajang pencitraan bagi pemerintah. “Sebenarnya sudah lama. Tapi ya penanganannya pas sudah parah-parahnya,” sambung Supriyanto. Hal senada juga diungkapkan oleh Budiyono (55). “Pemerintah datangnya pas udah parah. Paling ya buat cari muka,” timpalnya.

Selain Ganjar, Wakil Walikota Semarang, Hevearita atau kerap disapa Ita juga mengunjungi Bandarharjo. Penduduk sangat antusias dengan kedatangannya. Beberapa di antaranya mengabadikan momen kedatangan wakil walikota tersebut dengan ponsel. Kunjungannya di RW 9 bermaksud untuk memberikan obat-obatan berupa vitamin dan buah. Kehadiran Ita terbilang singkat. Warga cukup senang menantikan kunjungan Ita, meski harus menunggu selama satu jam. Terlebih mereka harus menunggu ditemani dengan hujan deras dan angin yang lebih kencang dari sebelumnya.

Kedatangan mobil ambulan di Kampung Bandarharjo (BP2M/Adam)

Harapan dan Nasib Warga bergantung Pada Tol

Sebenarnya, Pemerintah melalui Peraturan Presiden No. 58 Tahun 2017 sudah mencanangkan dibangunnya Tol Tanggul Semarang-Demak. Pembangunan tersebut digadang-gadang dapat meminimalisasi keberadaan banjir rob. Sayangnya, Bandarharjo yang terletak di sebelah timur Tanjung Mas, tidak mendapatkan dampak yang signifikan dari pembangunan tol tersebut. Warga hanya bisa berharap kepada tanggul yang sudah jebol itu. Setidaknya dengan adanya tanggul, warga Bandarharjo terlindungi dari ganasnya pasang laut.

Harapan itu tampaknya segera terwujud. Dilansir dari Harian Kompas yang terbit pada 5 Juni lalu, Jarot Widyoko, Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), menuturkan bahwa tanggul sementara akan selesai dalam dua pekan. Nantinya, tanggul tersebut memiliki ketinggian 1,9 meter serta memiliki panjang 300 meter. Bahan pembuatan tanggul pun tidak sembarangan. Selain menggunakan karung berisi pasir, tanggul dibuat menggunakan bahan bernama geobag, semacam geotekstil yang dibuat menyerupai karung. Geobag tersebut yang nantinya akan diisi pasir dan ditumpuk layaknya benteng.

“Kalau karung pasir masih bisa jebol, tapi kalau geobag hanya rembas saja, tidak sampai jebol,” ucapnya.

Di sisi lain, Tol Semarang-Demak merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo. Proyek sepanjang 27 km tersebut diperkirakan menelan biaya lima belas triliun. Selain mempermudah konektivitas antara Semarang-Demak, proyek tol ini memiliki keistimewaan sebagai tanggul laut.

Walaupun demikian, beberapa kalangan termasuk aktivis dan akademisi menilai keberadaan proyek tersebut sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya, menyitir dari majalah NuansA edisi tiga, Mila Karmilah, Dosen Planologi Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), menyatakan pembangunan tol dan tanggul laut justru menimbulkan bahaya abrasi, khususnya bagi daerah yang tidak ditanggul. Hal itu lantaran arus akan bergerak ke sisi pantai yang tidak ditanggul.

Sejatinya, pembangunan proyek tol tanggul laut hanyalah cara untuk meminimalisasi dampak bencana yang ada di pesisir semarang. Belum ada solusi yang benar-benar menjadi obat mujarab untuk menghalau banjir rob. Tutinah, Rosmiyati, Suprayanto dan Budiyono tidak memiliki banyak pilihan. Mereka tidak leluasa untuk pindah dan menetap ke lokasi yang aman. Persoalan biaya menjadi salah satu faktor. Akibatnya, mau tidak mau, pilihan mereka hanya satu: menetap di pesisir dengan rutin meninggikan rumahnya. Meski menelan biaya yang tidak murah, mereka tetap melakukannya.

“Kami ibarat mengontrak, Mbak,” pungkas Rosmiyati.

Seorang kakek sedang duduk di teras rumahnya yang dikelilingi banjir rob (BP2M/Adam)

 

Reporter : Muhimmaturrisana/Adinan Rizfauzi

Editor : Laili Ayu Ramadhani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here