Kompetisi pemilihan
rektor Unnes diwarnai tampilnya wanita sebagai salah satu calon. Martitah merupakan satu-satunya wanita yang mencalonkan diri sebagai rektor Unnes periode 2014−2018.
Menurutnya, jenis kelamin tidak menjadi halangan untuk maju menjadi seorang
pemimpin. Tekad tersebut membawa keberaniannya untuk maju dalam kompetisi
pemilihan calon rektor Unnes. Ia optimis bisa menjadi pemimpin di Unnes.
Martitah mengungkapkan, hendak mewujudkan Unnes sebagai pusat iptek, seni budaya, dan ilmu
pendidikan dengan berbasis nilai-nilai kearifan lokal
yang berstandar internasional. “Visi tersebut dapat dilakukan melalui
pendidikan dan pengajaran, mengarahkan pada bidang penelitian, dan kemudian pengabdian, ” ungkapnya, Senin (26/5).
Menurutnya, roh Unnes terletak pada program studi
kependidikan. Jika Unnes
sebagai LPTK tidak memberikan perhatian serius dalam kemajuan pendidikan, maka dapat dikatakan Unnes
tidak memiliki komitmen dalam bidangnya. “Pendidikan merupakan gerbang utama, jika suatu negara
memiliki kualitas pendidikan yang rendah maka bidang yang lain tidak akan
maju,” tambahnya.
Realisasi
Visi
Realisasi pelaksaan
visi tersebut, lanjut Martitah, dapat dilakukan dengan cara mendorong dosen
untuk memperkuat materi ajar, membentuk strategi-strategi mengenai cara
mengajar yang mewujudkan mahasiswa tidak takut kepada dosen. Selain itu, juga memberikan
stimulasi untuk para dosen dan mahasiswa menulis di jurnal.
Penguatan posisi Unnes
juga membutuhkan perhatian serius pada bidang riset. Ia menuturkan bahwa
Universitas yang baik yaitu universitas yang melakukan riset. Hal ini dilakukan
dalam rangka meningkatkan kualitas mutu dan didasarkan pada hasil riset yang
telah dilakukan atau dihasilkan.

Martitah juga berencana
melanjutkan kebijakan konservasi dan melakukan beberapa program yang belum
terealisasi. Selain itu, dia akan berupaya menjadikan Unnes benar-benar
konservasi baik dari budaya, lingkungan dan etika sikap serta terasa manfaatnya
bagi semua lapisan. Erin, Yuni