Advertorial
Kabar Kilas

Penta K Labs: Upaya Merespons Persoalan Pantura dengan Seni

Salah satu karya oleh Brebes Artdictive di Penta K Labs IV yang menampilkan lukisan bergambar tangan disebuah bangunan yang telah terendam rob, Senin (19/12). [BP2M/Adinan]

Kolektif Hysteria menggelar festival Penta K Labs IV di Kampung Nelayan Tambakrejo, Tanjung Mas, Semarang. Festival yang dilaksanakan dua tahun sekali ini mengangkat tema “Malih Dadi Segara (Berubah Menjadi Laut)”. Tema itu dipilih untuk merespons perubahan tata ruang sebagai akibat dari adanya interaksi manusia dan alam yang mengakibatkan terendamnya kawasan Pantai Utara Jawa (pantura) oleh banjir rob. Festival yang berlangsung selama 17-21 Desember ini menampilkan 37 projek seni, 10 musik dan pertunjukan, serta 20 pembicara simposium.

Adin, kurator Penta K Labs IV, mengatakan pemilihan lokasi di Kampung Nelayan Tambakrejo dikarenakan tingginya tingkat kerentanan kampung tersebut terhadap ancaman banjir rob. Untuk itu, ia bersama kelompoknya berinisiatif menguatkan warga di sana sesuai dengan kapasitasnya. “Karena kita seniman, ya kita buat festival seni,” ucap Adin di sela-sela kegiatan, Senin (19/12).

Selain itu, Adin juga mengatakan bahwa festival Penta K Labs IV bertujuan agar semua orang, termasuk masyarakat awam, memiliki kesadaran untuk merespons isu kota. Ia menuturkan bahwa kota bukan hanya tentang planologi atau arsitek. “Tapi juga bagian dari prototype dan harus dilihat sebagai satu kompleksitas,” ujarnya. 

Berbeda dengan kebanyakan seniman yang memamerkan karyanya di lokasi festival, salah satu kelompok yang terlibat di Penta K Labs IV yakni Bukit Buku memilih untuk menggelar bazar buku. Selain itu, Bukit Buku juga melakukan siaran langsung melalui Instagram dengan para penulis serta melakukan diskusi publik secara daring. Berbagai kegiatan tersebut merupakan slide event Penta K Labs IV dengan tajuk “Semarang Writers Week III”. “Tujuan kami adalah mendekatkan buku dengan pembaca,” tutur Istiqbalul Fitriya, founder Bukit Buku, Senin (19/12).

Lain halnya dengan warga setempat, selain dapat menikmati kegiatan mereka juga memanfaatkan festival tersebut untuk berjualan. Muslimah, Warga Kampung Nelayan Tambakrejo, mengatakan banyak orang yang berkunjung ke kampungnya ketika Penta K Labs IV berlangsung. Untuk itu, ia berinisiatif menjual makanan di depan rumahnya. ”Alhamdulillah, rame,” ucapnya.

Festival ini merupakan yang keempat kalinya digelar. Serangkaian acara pada festival ini akan ditutup dengan penampilan dari berbagai musikus dan pertunjukan reog yang dapat disaksikan secara gratis oleh masyarakat umum.

 

Reporter: Adinan Rizfauzi

Editor: Nurul Azizah

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Advertorial